• Thunderbolts*
    Thunderbolts*

    Thunderbolts* (2025)

    By , in Action Adventure

    Yelena Belova (Florence Pugh) masih terjebak dalam kehampaan setelah kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya, Natasha Romanoff. Hidupnya kini terasa datar dijalani lewat misi-misi rahasia, botol minuman keras, dan malam-malam penuh kesepian. Namun, titik balik datang saat Yelena memutuskan ingin mengubah arah hidupnya. Ia ingin dikenal, tampil di publik, dan tidak lagi menjadi bayangan dari masa lalu.

    Keinginan ini membuat Valentina (Julia Louis-Dreyfus), pimpinan CIA yang ambisius dan penuh agenda tersembunyi mengirim Yelena ke lokasi rahasia, tempat di mana para agen "kelas dua" lainnya sudah berkumpul: John Walker (Wyatt Russell), Ghost (Hannah John-Kamen), TaskMaster (Olga Kurylenko), dan Bob (Lewis Pullman) korban eksperimen dengan kekuatan super dan jiwa yang tidak stabil. Hingga akhirnya mereka sadar bahwa tujuan misi ini bukan hanya untuk melenyapkan bukti eksperimen dari Valentina, tapi juga termasuk nyawa mereka.

    Tanpa mereka sadari bahwa ancaman terbesar sebenarnya adalah Bob, yang menjadi bom waktu dengan kekuatan luar biasa dengan mental yang tidak stabil. Bucky Barnes (Sebastian Stan) akhirnya terpaksa meminta bantuan dari mereka, ditambah dengan Red Guardian (David Harbour), demi menghentikan kehancuran yang lebih besar.

    Ada banyak karakter yang familiar bagi fans Marvel yang sudah menonton film ataupun seriesnya.  Tapi perbedaan yang paling jelas adalah kali ini Marvel tidak membawa karakter superhero besar mereka yang biasa menjadi sorotan. Tidak ada Iron Man, Captain America, atau Thor. Sebaliknya, film ini mengandalkan para sidekick, karakter bermasalah, dan antihero yang selama ini berada di pinggiran cerita. Justru di sinilah letak keunikannya film ini adalah tentang mereka yang dianggap pecundang, yang kini diberi kesempatan untuk menyelamatkan dunia.

    Namun, dengan banyaknya karakter, tentu tidak semuanya mendapat ruang yang cukup untuk berkembang. Fokus utama jatuh pada Yelena, yang menjadi cermin dari krisis identitas tim ini. Bahkan, bisa dibilang masalah dari karakter Yelena membuat film ini terasa seperti sekuel dari Black Widow (2021).

    Sayangnya, meski film dipenuhi karakter dengan latar yang kelam dan kompleks, konflik yang dihadirkan lebih banyak berupa adu argumen daripada aksi. Adegan pertarungan terasa terbatas, dan alih-alih kekacauan fisik, kita lebih banyak disuguhi drama dan percakapan panjang. Bahkan aku merasa para antihero ini lebih bijak dibandingkan pertama kali karakter Avengers berkumpul di The Avengers (2012).

    Secara keseluruhan, film ini tetap menghibur. Dari awal hingga menjelang akhir, ritme cerita cukup kuat. Bahkan ada nuansa nostalgia seperti ketika kita pertama kali menyaksikan para superhero berkumpul di The Avengers (2012). Namun, sayang sekali, semua itu runtuh menjelang klimaks. Ketika konflik utama bisa diselesaikan dengan... kata-kata. Sebuah kekuatan super klise yang sangat menjenuhkan bagi film superhero modern.

    Meski begitu, satu hal yang patut diapresiasi, Marvel akhirnya menemukan cara untuk menutup Phase 5 dengan cukup oke. Ending-nya memberi harapan bahwa MCU belum habis, dan bahwa benang merah masa depannya perlahan mulai terlihat.

    6.8 10

    Over time, you realize that there's a bad guy and a worse guy and nothing else.

    Leave a Comment.